Puasa Ramadan: Keseimbangan Antara Menunaikan Kewajiban Dan Meraih Ridha Allah
Menjelang akhir Ramadhan, suatu refleksi mengenai puasa datang saat saya sedang mengerjakan proposal disertasi. Saya kemudian melakukan sebuah survei kecil melalui IG story untuk mengetahui bagaimana teman-teman memandang puasa Ramadhan. Saya buat pertanyaan terbuka menanyakan mengapa mereka berpuasa. Sekitar 6-7 orang yang merespons saat itu dan mayoritas menjawab karena puasa Ramadhan itu wajib hukumnya. Hanya ada 1 orang yang mengatakan ingin mencari Ridha Allah SWT. Apakah dua bentuk jawaban yang berbeda ini memiliki makna khusus?
Tory E. Higgins mengembangkan Regulatory Focus Theory (RFT) dalam keilmuan psikologi. RFT membahas bahwa dalam usaha manusia untuk meraih tujuannya, terdapat dua sistem pengelolaan diri yang mendorong tindakan manusia dengan cara yang berbeda, yaitu promotion focused dan prevention focused. Pengelolaan diri promotion focused berarti bahwa individu melakukan tindakan dan usaha karena ingin meraih harapan dan cita-cita. Dengan meraih harapan dan cita-cita ini, akan ada hal positif yang akan didapatkan oleh individu. Pengelolaan diri prevention focused berarti bahwa individu dalam bertindak dan berusaha, didasari oleh adanya kewajiban dan tanggung jawab untuk menghindari konsekuensi negatif dari tidak dilaksanakannya kewajiban tersebut. Menggunakan RFT, ketika seseorang mengemukakan bahwa ia berpuasa karena hal tersebut merupakan kewajiban, maka pengelolaan diri prevention focused aktif. Sebaliknya, ketika motif seseorang berpuasa adalah mencari ridha Allah, maka yang aktif adalah pengelolaan diri promotion focused.
Jika kita kembali kepada Al Quran, kita semua memahami bahwa puasa Ramadhan pada awalnya merupakan suatu kewajiban, seperti yang tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 183. Namun demikian, jika kita teruskan membaca hingga ayat 184, Allah SWT menutupnya dengan mengatakan bahwa bagi orang yang mengetahui, akan ada kebaikan dalam berpuasa. Mengacu pada dua ayat ini, kita dapat melihat bahwa puasa itu tidaklah sekedar kewajiban yang harus kita taati, melainkan ada kebaikan yang akan kita dapatkan ketika kita melaksanakannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa menjalankan puasa secara psikologis berarti bahwa manusia tidak hanya mengaktifkan pengelolaan diri prevention focused, tapi juga promotion focused. Berpuasa tidak hanya menjalankan kewajiban agar terhindar dari dosa, melainkan juga meraih kebaikan puasa. Bahkan dalam penggalan ayat 29 surat Al Fath, Allah SWT mengatakan bahwa orang yang bersama-sama dengan nabi Muhammad SAW melakukan rukuk dan sujudnya untuk mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Orang-orang yang ingin mencari ridho Allah dalam hidup, memiliki pengelolaan diri promotion focused yang aktif.
Ketika berpuasa hanya berfokus kepada usaha untuk melaksanakan kewajiban, berarti sistem pengelolaan diri prevention focused saja yang aktif. Individu akan berusaha sekuat tenaga agar puasa tidak batal. Ia bisa saja marah bila ada orang atau situasi yang menurutnya dapat membatalkan puasanya. Hal tersebut pada satu sisi adalah baik. Namun demikian, hanya itu saja yang akan didapatkan oleh individu. Puasanya tidak batal, kewajiban sudah ditunaikan. Apakah tidak boleh kita hanya mengaktifkan prevention focused dalam berpuasa, atau ibadah apapun?
Terdapat riset psikologi yang menunjukkan bahwa individu yang semata-mata melakukan perilaku moral untuk menghindari hukuman akan mengalami terkurasnya energi psikologis dan akhirnya pada satu titik, ia dapat tergoda untuk melakukan pelanggaran moral. Hal tersebut berarti ada peluang bagi kita manusia yang berpuasa dan beribadah hanya karena kewajiban, hanya karena takut berdosa jika tidak melakukan, malah akhirnya lelah dan akhirnya tergoda untuk tidak melakukan kewajibannya, tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, tergoda untuk tidak sholat, tergoda untuk mengambil apa yang bukan haknya.
Ayat 184 surat Al Baqorah dan ayat 29 surat Al Fath menunjukkan bahwa puasa dan ibadah kita tidak hanya sekedar melakukan apa yang diperintahkan Allah, tapi ada tujuan yang lebih tinggi yaitu meraih karunia dan ridha-Nya. Dengan mengaktifkan pengelolaan diri promotion focused, kita mengarahkan motif kita untuk meraih tujuan besar kita yaitu meraih ridha Allah SWT. Ketika berpuasa dilakukan untuk meraih ridha Allah, puasa tidak lagi sekedar menahan lapar dan dahaga, tapi juga ada usaha mengendalikan emosi negatif. Puasa dilengkapi dengan kebaikan lainnya seperti sedekah, membaca Al Quran dan juga bahkan i’tikaf. Ada kepuasan saat kita menunaikan ibadah, tidak hanya sekedar rasa lega bahwa kewajiban berhasil dilakukan. Ada rasa sedih saat Ramadhan akan berakhir karena kenikmatan ibadah pada bulan Ramadhan tidak akan lagi kita rasakan hingga datang ramadhan berikutnya.
Allah menurunkan Islam dengan berbagai syariatnya sehingga terdapat kewajiban-kewajiban kepada kita sebagai muslim. Tapi Allah tidak ingin kita hanya berhenti pada kewajiban saja. Pada tataran yang lebih tinggi, ridho Allah lah yang ingin kita raih. Ibadah dengan tujuan meraih ridha Allah menghindarkan kita dari keterpaksaan dalam beribadah. Kita bisa merasakan kepuasan dalam beribadah, dan ibadah kita pun akan meluas, tidak hanya yang wajib saja, namun juga melakukan ibadah sunnah. Insyaa Allah, ibadah yang kita lakukan pun akan lebih konsisten dan dapat menahan diri dari godaan untuk meninggalkannya. Semoga motif ibadah puasa kita ditahun ini dan ditahun-tahun selanjutnya dapat mengarah untuk meraih karunia dan ridha Allah SWT. Wallahu’alam bishawwab.
Komentar